Kota Harapan Sulastri

Share this:

Oleh: Annasy Almuhlis | Mahasiswa STIE Ahmad Dahlan Jakarta

Orang yang sukses akan tumbuh karena tekad kuat yang lahir dalam dirinya, bukan darimana ia dilahirkan. Dilahirkan dari seorang pejabat pun tak akan menjamin kesuksesan bila tak memiliki tekad untuk berjuang. Perjuanganlah yang akan mengantarkan kita dalam kesuksesan, seperti yang telah dilakoni oleh Bu Lastri. Siapa itu Bu Lastri?

Bu Lastri merupakan sosok seorang ibu yang luar biasa dalam berjuang untuk menghidupi keluarganya. Datang jauh-jauh merantau ke ibu kota untuk mencari nafkah. Wanita yang akrab disapa Bu Las ini sudah memasuki usia sekitar 40 an asal Wonogiri, Jawa Tengah. Bu Las kini telah menetap di ibu kota bersama keluarganya. Merantau ke jakarta dengan tekad yang kuat untuk merubah keadaan perekonomian keluarga. Tekad tersebut dituangkan dalam usahanya dengan membuka warung makan wonogiri.

Sebelum membuka usaha warung nasi wonogiri, Bu Las sempat mencicipi rasanya menjadi karyawan. Setelah merasakan bagaimana rasanya bekerja pada orang membuat bu las berpikir untuk membuka usaha sendiri dengan niat ingin berdikari dan menjadi pengusaha. Tak lama setelah menjadi karyawan dan ia merasa cukup memiliki modal usaha bu las berhenti dari pekerjaanya. Di awal tahun 1995 Bu Las memulai usaha warung nasi khas wonogiri.

Merintis usaha dari nol bukanlah hal yang mudah karena harus memikirkan dan mempersiapkan banyak hal. Persiapan modal, pemasaran dan tempat yang strategis agar cepat menarik para konsumen. Bu Las telah memiliki ketiga hal tersebut, modal yang berasal dari simpanan saat ia bekerja dulu dan di daerah kampuslah tempat yang dirasa strategis yang dipilih Bu Las sebagai pemasaran usahanya.

Diantara kampus UMJ dan STIE Ahmad Dahlan Jakarta menjadi tempat strategis, membuat warung nasi Bu Las cepat dikenal kalangan masyarakat maupun mahasiswa yang tinggal didaerah sekitar kampus. Selangkah demi selangkah usaha Bu Las berjalan.

Warung makan Bu Las ini dikenal dengan penyajian prasmanan, murah dan juga enak. Menjadi serbuan para mahasiswa yang tak ada waktu untuk memasak. Bukan hanya kalangan mahasiswa, para dosen pun menjadi penikmat makanan Bu Las. Mungkin sudah timbul ciri khas, sehingga makanan Bu Las cepat memiliki pelanggan.

Semakin ramai kampus UMJ dan STIE Ahmad Dahlan maka semakin ramai pula warung Bu Las diserbu oleh para mahasiswa. Karena mahasiswa dikenal tidak mau repot untuk soal makan dan juga menghemat waktu. Maka warung Bu Las yang menjadi solusi para mahasiswa untuk mengenyangkan perut.

Usaha yang dirintis Bu Las sudah cukup lama berjalan, yaitu 22 tahun lamanya. Hingga saat ini tak lekang dengan adanya rintangan-rintangan yang dihadapi bu las dalam usahanya. Usaha yang sudah cukup lama dirintis oleh Bu Las dari nol hingga saat ini telah mencapai omset yang lumayan. Sudah lebih dari cukup untuk menggaji karyawan.

Berkat usaha yang Bu Las jalani, ia bisa membuka peluang pekerjaan sekaligus telah membantu perekonomian orang lain. Bu Las memiliki 3 orang karyawan dalam usahanya. Inilah yang membuat usaha Bu Las semakin berjalan dengan baik dengan omset yang lumayan karena dibantu oleh para karyawannya. Usahanya semakin optimal, karena tidak lagi dijalani seorang diri, namun ada bantuan dari orang lain.

Dalam berwirausaha karyawan pun memiliki peran penting untuk mengembangkan usaha Bu Las. Jika sudah memiliki karyawan bisa dianggap sukses, karena mampu membuka lapangan pekerjaan. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa lapangan pekerjaan semakin sulit didapat, dengan adanya usaha Bu Las ini maka setidaknya dapat sedikit mengurangi kesulitan tersebut. Dunia usaha pun tak akan jauh dari segala rintangan yang akan dihadapi kedepannya.

Halangan dan rintangan merupakan bentuk ujian untuk kita, seberapa mampu bertahan dalam usaha yang telah dirintis agar tetap konsisten. Bu Las pernah mengalami rintangan, musibah besar di tahun 2007 yaitu jebolnya tanggul danau situ gintung. Cukup membuat usaha Bu Las mengalami kerugian.
Musibah yang dialami ini tidak mematahkan semangat berwirausaha Bu Las. Jatuh bangun dalam dunia usaha adalah hal yang sangat wajar dan pasti ada. Karena kita tidak pernah tahu kapan musibah akan datang menghampiri. Dengan tekad yang masih kuat untuk tetap memiliki usaha sendiri, kemudian hanya selang berapa bulan Bu Las mampu membangun kembali warung nasi wonogiri ini hingga sekarang. Keoptimisan dan kegigihan Bu Las ini membawa rezeki yang terus mengalir hingga sekarang.

Suka duka menjadi pengusaha warung nasi telah cukup untuk menjadi bekal Bu Las mengembangkan usahanya hingga sekarang. Dengan modal ketekunan, Bu Las kini tetap konsisten dalam usahanya. Banyak motivasi yang ditanam Bu Las sehingga tetap berdiri untuk mengembangkan usahanya, salah satunya yaitu untuk menyekolahkan kedua putrinya.

Kedua putrinya inilah yang menjadi semangat Bu Las, sekaligus dorongan untuk tetap membuka usaha warung nasi wonogiri. Dengan usaha yang sederhana namun bisa membawa kesuksesan yang luar biasa yaitu dengan menyekolahkan kedua putrinya, Lusiana dan Rizqi Rahma Wati. Lusiana kini sedang menempuh pendidikannya di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) jurusan perpajakan dan akan menjadi calon wisudawati bulan desember 2017 mendatang.

Ini menjadi sebuah kebanggaan bagi seorang ibu yang mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi. Tak cukup sampai disitu saja, Bu Las ingin putrinya melanjutkan ke jenjang selanjutnya yakni pasca sarjana. Bu las ingin melihat anak-anaknya kelak menjadi kebanggaan orang tua dan bangsa.

Memiliki seorang ibu yang sangat luar biasa adalah kebahagiaan yang sangat luar biasa bagi anak-anak Bu Las tentunya. Ibu yang terus berjuang untuk kesuksesan anak-anaknya meski disuguhi banyak rintangan yang harus dilewatinya. Namun, rintangan itulah yang menjadi motivasi Bu Las untuk tetap mewujudkan cita-citanya yaitu menyekolahkan kedua putrinya hingga sukses.

Selain menjadi sosok seorang ibu hebat bagi kedua putrinya, beliau juga sempat menjadi tonggak kehidupan dalam keluarganya. Bu Las pernah menghidupi keluarganya sebelum usaha suaminya mengalami berbagai problematika. Namun, Bu Las mendorong suaminya untuk terus berjuang membangun usahanya kembali. Bukan hanya dengan dorongan moral namun Bu Las mampu memberikan sedikit modal kepada sang suami.

Itulah peran istri sekaligus ibu yang luar biasa. Peran inilah yang kemudian Bu Las coba untuk bisa diwariskan kepada putrinya, karena seorang anak adalah investasi jangka panjang yang akan kita panen di kemudian hari bila seorang anak sukses. Sukses pun tak harus mengikuti jejak orang tua namun mampu memiliki tekad untuk mewujudkan cita-citanya.

Kisah hidup Bu Las cukup memotivasi sekali dengan kegigihannya yang jauh-jauh merantau untuk membuka usaha warung makan. Motivasi inilah yang bisa kita pelajari dari Bu Las. Setinggi apapun pendidikan kita jika tidak diiringi dengan tekad dan kegigihan untuk menjadi pengusaha maka tak akan bisa terwujud sampai kapanpun.

Kegigihan bisa saja muncul karena melihat sekitar bahwa menjadi pengusaha adalah peran penting bagi lingkungan sekitar. Muncul pertanyaan dalam benak mengapa Bu Las ingin membuka usaha sendiri. Bu Las menjawab “Saya ingin berdikari, karena bekerja dengan orang terkadang enak dan terkadang enggak”.

Jawaban yang singkat namun menjadi motivasi dan memiliki makna yang mendalam. Karena dengan berwirausaha maka kita telah membuka 9 pintu rezeki. Selain itu dapat mempermudah orang lain untuk mendapatkan pekerjaan dengan kita membuka lapangan pekerjaan.

Bu Las pun telah merasakan betapa beratnya bekerja pada orang lain yang terkadang mendapatkan tekanan. Tekanan yang setiap harinya harus terulang meskipun tak melakukan kesalahan yang serupa. Itulah yang menjadi motivasi Bu Las untuk berjuang membangun usaha sendiri.

Usaha apapun itu jika ditekuni maka akan mengantarkan kita pada kesuksesan. Karena jerih payah dan usaha pastinya akan mendapatkan bayaran yang sepadan. Apapun rintangan yang akan kita hadapi maka tetaplah konsisten dan terus maju karena pasti ada kemudahan sebagai jalan keluarnya.
Bu Las pun pernah merasakan kesulitan setelah mendapatkan musibah besar yang melanda rumah dan warung beliau, karena mampu bangkit dan terus berjuang akhirnya Bu Las mendapatkan jalan keluar untuk tetap membuka usaha warung makannya.

Inilah yang menjadi motivasi para pengusaha, yang awalnya merasakan pahit manisnya dalam mencari sesuap nasi. Kemudian mulai berpikir bagaimana untuk bisa membangun usaha dengan tujuan berdikari dan membuka peluang usaha bagi mereka yang sangat membutuhkan. Pelaku usaha banyak sekali menerapkan ATM (Amati Tiru Modifikasi) agar mempermudah usaha apa yang akan ia bangun.

Mengamati usaha yang sudah ada dapat mempermudah bagi kita untuk membuka peluang usaha dengan melihat sekeliling kita. Apa usaha yang pas untuk kita tekuni, kemudian kita meniru dengan hal yang sama namun mampu memodifikasi agar lebih menarik perhatian para konsumen.

Seperti halnya yang Bu Las lakukan dengan meniru usaha-usaha yang sudah ada namun mampu memodifikasi yaitu dengan membawa makanan khas daerahnya dalam usaha warung makan, kemudian tidak menghilangkan rasa makanan yang menjasi selera para mahasiswa. Hingga warung makan Bu Las sangat cepat dikenal terutama dikalangan para mahasiswa.

Bu Las yang hanya tamatan SMP buktinya mampu menunjukan kepada dunia bahwa pendidikan tak membatasi kita untuk tetap melangkah terus kedepan, untuk menyongsong hari yang indah. Dengan terus melangkah dan berjuang maka jalan untuk menuju kesuksesan akan sangat mudah kita jalani.

Barangkali ada hal yang patut kita teladani dari Bu Las khususnya bagi para wanita yang sudah menyandang status isteri. Berkat kegigihannya dalam berwirausaha, Bu Las mampu mendukung sang suami dalam membangun karir. Yah, selayaknya cinta kasih seorang isteri pada suami. Bu Las tak mempermasalahkan keadaan yang terasa tak wajar. Dimana seharusnya sang suamilah yang menopang perekonomian dirinya dan keluarga, tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Bu Las dengan ikhlasnya membantu sang suami berjalan meniti karir dibantu dengan modal yang diperoleh dari usaha warung nasinya.

Bu Las percaya, semua yang dilakukan diniatkan semata-mata sebagai wujud baktinya kepada sang suami. Meski ia tak mudah menjalani berbagai persoalan hidup, ia tak lantas menyalahkan keadaan atau siapapun. Ia selalu meyakinkan diri, bahwa kelak kehidupan yang lebih baik akan ia raih bersama keluarganya. Dan buah manis perjuangan itu sedang dirasakan oleh Bu Las, usahanya sudah cukup sukses. Hal tersebut dapat dilihat dari omset penjualan per bulannya, juga semakin meluasnya pangsa pasar serta kepercayaan pelanggan yang telah terbentuk.

Diusianya yang semakin menua ini, terkadang Bu Las tersenyum tak habis pikir dengan kondisinya saat ini. Rasanya baru kemarin ia dan keluarga masih bersama-sama merasakan pahitnya jalan hidup mereka. Masih menangis hampir menyerah saking lelahnya berusaha. Sekarang, semuanya benar-benar membaik. Allah mengizinkan ia dan keluarga menikmati berkahnya hidup.

Bu Las tentu menyadari, perjalanan tidak berhenti sampai disini. Proses-proses berikutnya masih panjang dan sudah menanti didepan sana. Persaingan dalam usaha kuliner pun ia sadari semakin ketat, ia harus terus berinovasi demi keberlangsungan usaha yang telah dirintisnya sejak lama itu. Tak mau ia membiarkan perjuangan yang telah susah payah dijalani akan lenyap digerus para pesaingnya.
Untuk kaum wanita di luaran sana, Bu Las mempunyai suatu pesan. “Jadilah wanita tangguh namun tetap anggun, jangan pernah lupakan kodaratmu sebagai perempuan. Kebahagiaan sejati wanita adalah saat ia mampu menjalankan perannya sebagai wanita”. Bu Las menyadari, dirinya seorang wanita. Takdirnya sebagai seorang istri dan ibu sudah berada digaris sang kuasa, tak mau rasanya ia berpaling dari takdir yang sudah ditetapkan.

Jadi jangan mau kalah oleh Bu Las yang hanya lulusan SMP tapi mampu mensejahterakan keluarganya dan orang-orang disekitanya yang tidak memiliki pekerjaan. Kita yang lulusan sarjana atau pun pendidikan yang lebih tinggi harus memiliki semangat juang yang lebih dari Bu Las. Jangan menjadi lemah hanya karena berjenis kelamin wanita, tapi juga jangan angkuh karena merasa lebih mampu karena materi. Jadilah sebaik-baiknya wanita dengan memeluk erat kodratnya yang telah digariskan.

Sumber Poto

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz