Ilusi Roda kehidupan

Share this:

Penulis: Yandi RZ | Twitter: @yandirzyan

Apa pentingnya punya pekerjaan dengan gaji tinggi, atau punya jabatan hingga semua orang menyegani, atau wajah standar tapi pacar cantiknya luar biasa, jika itu hanya kesemuan hanya sebuah ilusi. Pagi itu di kursi plastik depan kamar kos, aku duduk termenung. Bukan karena status pendidikanku yang berantakan, bukan pula kisah percintaan yang menghawatirkan. Sejak dilahirkan sampai kuliahku yang menginjak semester ke 9, aku belum pernah merasakan kasmaran.

Tapi pagi itu yang ku renungkan adalah nasib seorang teman, tepatnya adik kelas di kampus tempatku menempuh pendidikan. Sebut saja namanya Mahar dia adalah anak yang serba berkecukupan, pakaian yang dipakainya semua bermerk. Kendaraan kuliahnya selalu berganti, kadang motor ninja limited, kadang bawa mobil honda jazz, honda freed bahkan pernah dia bawa mobil besar yang tak muat di parkiran. Dia memang sedikit konyol mobil truk milik perusahaan bapaknya, pernah dia pakai untuk kuliah.

Sebagai mahasiswa yang serba pas-pasan, berteman dengannya sangat menguntungkan. Bagaimana tidak, aku yang biasanya makan di warteg dengan menu usus yang tak tau dimana letak gizinya -itupun kadang ngutang-. Kini sejak ku berteman dengan Mahar, tak pernah lagi ku nikmati makanan jeroan ayam itu. Tiap hari mahar selalu mentraktirku makan. Fast food nya Amerika, restoran China, Jepang, restoran timur tengah menjadi tempat kami menghilangkan rasa lapar.

Kini sejak pertemananku dengan mahar duniaku berubah seratus delapan puluh derajat, pulang kuliah kerjaku hanya nangkring padahal dulunya aktif di berbagai organisasi, nilai kuliahku anjlok, beasiswa yang tiap tahun aku dapatkan kini di tarik kembali oleh kampus. Bahkan bukan hanya itu kini hidupku mulai akrab dengan dunia malam. Padahal Ketika di kampung kegiatan sehari hariku gak jauh dari mesjid.

“….Kawan! hidup itu hanya sekali, bersenang senanglah” teriak mahar sambil kembali menuangkan anggur ke dalam gelas, dentuman musik DJ membuat kami harus bicara dengan keras, “iya har persetan dengan kuliah, persetan dengan dunia” jawabku meracau, padahal belum sampai setengah gelas aku minum tapi tubuhku sudah sempoyongan. Mungkin ini karena kondisi tubuh kampunganku yang belum terbiasa dengan alkohol, “Hahaha…hari ini kita play sampai pagi kawan” ucapnya lagi dengan kepala berputar putar mengikuti irama ajep ajep racikan sang DJ.

Lama kami berbincang, mulai dari perkuliahan yang membosankan, bisnis keluarganya yang semakin maju, gadis-gadis cantik kampus tak luput dari ocehan kami.

“Kawan kalo kau butuh apa-apa, panggil saja yah, gw mau kesana sebentar”, ucapnya sambil menunjuk ke arah wanita seksi yang duduk tak jauh dari tempat kami minum. Satu lagi yang membuat diriku iri dengan mahar. Selain terlahir dari anak orang kaya, dia juga pandai merayu. Padahal tampangnya biasa biasa saja, tak ada sisi menariknya. Tapi bukan hanya wanita bengal sexy yang berhasil dia jadikan kekasih, anis gadis alim primadona kampuspun berhasil dia taklukan. Entah ilmu apa yang dia gunakan, yang pasti mau dia itu wanita bengal mau dia itu wanita al. Mereka semua ingin kekayaan, agar kehidupannya terjamin.

Tiba tiba renunganku buyar oleh teriakan tukang sayur keliling “yur..yur..yur..sayur”, suaranya memecah suasana pagi itu. Kulihat isi kamar kos, ku tengok sosok remaja tambun terelelap tanpa terganggu dengan teriakan tukang sayur tadi. Padahal teriakannya keras, lebih keras dari penyanyi underground. Wajahnya tampak muram tubuhnya tergolek menimbun beban.

Dulu wajahnya putih, kini hitam legam. Dulu banyak wanita bilang dia lucu dan rela mengantri biar bisa jadi kekasihnya, kini para wanita menghindar karena ketakutan. Sosok itu adalah mahar, teman yang dulu telah menghancurkan pendidikanku kini tergolek di kamar kos ku yang sempit. Ayah mahar telah ditangkap KPK, karena menyelewengkan pajak yang merugikan negara sampai triliunan rupiah. semua aset kekayaannya disita negara sampai tak tersisa, perusahaanya di bekukan. Ibunya mahar kini berada di rumah sakit jiwa karena tak kuat menahan malu, dan semua keluarga yang dulu sering mendapat bantuan keuangan dari orang tuanya kini tak ada satupun yang peduli.

Teringat ucapan Mahar, kalo hidup hanya sekali maka nikmati sepuas puasnya. Ruapanya Sang Maha pengatur berkehendak lain, kalo roda itu harus cepat berputar supaya mereka sadar kalo hidup itu penuh dengan ilusi dan kesemuan.

Kupalingkan wajahku keluar jendela, tampak rumah megah diantara deretan rumah kumuh beratapkan seng. Ku tatap langit pagi, langit yang tadinya cerah kini perlahan lahan menghitam oleh asap kendaraan.

Sumber Poto

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz