Akun Facebook Ibu

Share this:

Penulis: Ayu Alfiah Jonas | Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Sejak punya akun facebook, ibu jadi jarang memasak. Tak kulihat lagi tangannya memegang penggorengan. Ia hanya sibuk membuka ponsel dan laptop, mencari tahu newsfeed di jejaring sosial itu dan membuat status terus menerus.Pagi hari, ia akan mengutip tentang motivasi dari buku Mario Teguh. Siangnya, ia akan memuat epigram-epigram Goenawan Mohamad yang diambil dari website resmi penulisnya. Sebagai penutup—biasanya di malam hari—ibu akan menuliskan kembali bait-bait puisi Kahlil Gibran dan membuat seolah kumpulan diksi itu buatannya sendiri. Semuanya berisi tentang bagaimana cara bertahan hidup dan bait-bait tentang kerapuhan cinta. Persis anak muda yang dilanda kegalauan.

Acap kali ia mengomentari status teman-teman arisannya. Ia juga sering menulis catatan tentang berita di televisi yang ditontonnya setiap pagi. Entah tentang pembunuhan, kecelakaan lalu lintas, bahkan gossip murahan para artis ibu kota. Ia pun kerap mengunduh foto pemandangan yang diambilnya dari sekitar komplek. Foto itu kadang-kadang berupa perbukitan tinggi di sudut utara komplek perumahan yang diselimuti sinar matahari, pernah juga berupa foto seekor ayam betina yang menggiring anak-anaknya mencari makanan. Menurut Ibu, itu juga merupakan sebuah pemandangan.

Kami tak tahu persis sejak kapan ibu ketagihan bermain facebook. Yang jelas, ia kini jauh lebih suka mengurus facebook ketimbang mengurusi keluarga. Jangankan keluarga, bahkan para tetangga pun kini sudah mulai mencium gelagat anehnya. Saat hari minggu tiba—waktu yang digunakan ibu untuk berkumpul dengan teman-teman arisannya—ibu hanya datang untuk membayar sisa tagihan arisan kemudian pulang dan bermain facebook lagi.

“Ibumu kenapa? Kok jarang keluar rumah?” Tanya salah satu tetangga.

“Entahlah, kami tidak tahu.” Hanya jawaban itu yang bisa kami utarakan. Sebab kami benar-benar tak mengerti kenapa ibu sampai tergila-gila facebook sedemikian parahnya.

Entah apa yang ibu lakukan dengan akunnya. Kami tidak pernah mengerti. Atau jangan-jangan, ibu punya selingkuhan? Jangankan berjualan online, ibu bahkan tak punya banyak teman. Lantas, apakah yang ia telusuri di jejaring sosial itu? Kami sungguh tak pernah tahu.

Sebagai anaknya, kami menjadi sangat khawatir. Benar kata pepatah, teknologi—sesungguhnya—mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Akhirnya kami menyimpulkan bahwa ibu terkena dampak negatif teknologi yang nampaknya, sudah cukup kronis. Kami harus segera menanganinya jika tak ingin kehilangan ibu.

Aku pernah memintanya membuat sarapan. Tetapi, ia menggelangkan kepala sambil berkata, “Masak sendiri lah, kau kan sudah besar. Mosok mau dimasakin terus.”

Sialnya, tak hanya aku dan penggorengan saja yang ibu acuhkan. Semua hal hampir diacuhkannya. Cucian yang menumpuk, baju-baju yang belum disetrika, bahkan peralatan dapur yang kotor di westafel. Ibu benar-benar melupakan kewajibannya. Saat memprotes, kami justru disuruh mencari pembantu rumah tangga. Akhirnya, karena melupakan semua pekerjaan rumahnya, kami pun mengambil alih urusan rumah tangga yang dulu selalu dipegang ibu. Kami mencuci dan menyetrika baju kami masing-masing, menyapu dan mengepel lantai bergantian. Ia menjadi sangat sensitif ketika anggota keluarga meminta pertolongannya. Semua anggota keluarga menjadi bingung, harus bagaimana menyikapi ibu yang amat keranjingan media sosial itu.

Kakakku yang jenius mengemukakan beberapa pendapat tentang pengaruh tersebut ke dalam satu esai yang dibuatnya dengan sungguh-sungguh. Ia menyerahkan esai itu pada ibu. Setelah selesai membaca, ibu hanya mengangguk-angguk tak karuan. Nyatanya—meski disodori esai itu terus menerus—ibu masih tetap tergila-gila pada facebook. Meski metode-metode penelitian kakak berusaha diterapkan, tetap saja hasilnya gagal. Kakakku bingung. Ia mulai putus asa menghadapi ibu.

“Bu, ayolah… Buatkan saya sayur asam dan sambal terasi.” Kakakku bergelayut manja di bahu ibu yang sedang mengetik sebuah status dari buku terbaru Goenawan Mohamad.

“Tidak bisa. Kamu ndak liat ibumu ini lagi sibuk?” Ibu tetap memainkan facebook, tanpa menoleh sedikitpun ke kakakku.

“Ya ampun…” Kakakku menepuk jidatnya. “Status plagiat saja dibanggakan. Please deh, Bu.”

“Kamu jangan kurang ajar ya sama ibu!” Ibu menutup laptopnya dan mendekat ke arah kami.

“Ibu berubah. Ibu tidak sayang kami lagi!” Teriakku pada ibu, membuatnya terdiam.

“Tidak, Nak. Ibu hanya sedang sibuk. Tolong kalian maklumi. Ibu lelah, Nak.” Ujar ibu, menahan amarah.

“Mengurusi facebook, ibu bilang sibuk? Itu kan bukan kewajiban ibu. Kewajiban ibu ya mengurusi kami dan ayah!” Teriakanku semakin kencang.

“Gara-gara ibu, ayah jadi jarang pulang. Ayah menghilang karena muak dengan perilaku ibu. Tapi ibu tak pernah sadar.” Kakakku meneruskan, hampir tergugu.

Ibu hanya diam, seperti menyembunyikan sesuatu. Kakakku mengepalkan tangannya, kemudian berlalu meninggalkan ibu. Aku menangis di sudut ruang tamu.

Sudah hampir tengah malam dan ayah tak kunjung pulang. Saat terakhir pulang ke rumah, ayah membentak ibu dengan sangat keras. Sayup-sayup terdengar pertengkaran mereka dari balik tembok kamarku. Aku hanya bisa diam. Sudah lama mereka tak bertengkar segaduh itu. Ayah membentak, ibu berteriak. Aku menguping, sembari berusaha menyembunyikan isak tangis.

“Jangan pergi lagi. Kasihan anak-anak. Mereka masih kangen sama ayahnya.” Suara ibu terdengar sendu. Aku tahu, kalimat itu sungguh-sungguh berasal dari hatinya yang pilu.

“Kerjaan menumpuk.” Ayah menjawab dengan tenang, seperti tak punya dosa. Padahal, ayah yang kukenal adalah ayah yang selalu tersenyum. Ayah yang manis karena kerap menuruti permintaanku.

“Tinggallah beberapa jam lagi.” Ibu memohon lirih, mungkin dengan memegang pergelangan tangan ayah—hal yang biasa ibu lakukan jika merengek minta dibelikan sesuatu.

“Ada rapat di luar kota. Klien sudah menunggu lama.” Masih dengan sangat tenang, ayah menjawab seadanya.

Ayah memang selalu sibuk dengan bisnis propertinya. Kami—aku dan kakakku—acapkali bermain ke kantor ayah. Di sana, banyak sekali barang-barang bagus. Kami betah berada di sana. Sebab semua karyawan ayah sangat ramah dan baik pada kita.

“Alasan basi.” Dari nada suaranya, aku tahu, kekecewaan telah berhasil merenggut ibu.

Aku jadi ingat, betapa tersiksanya ibu jika ayah tak pulang. Mengurusi rumah dan anak-anak sudah membuatnya amat repot. Apalagi ditambah ayah yang tak pulang. Pikirannya pasti kacau.

“Itu kenyataan, bukan alasan!” Ayah setengah membentak.

“Kita memang sudah tak penting lagi di matamu.” Ibu membalas dengan teriakan, membuat hatiku terasa semakin nyeri.

“Bukan waktu yang tepat untuk membahas ini.” Timpal ayah, diiringi suara roda koper pakaian yang di seret dengan emosi.

“Kapan kau ada waktu selain sekarang?” Dari balik kamar, aku bisa mendengar ibu yang setengah menangis, setengah berteriak.

“Diam!” Ayah membentak ibu.

Hening. Ibu dan ayah tak lagi saling bicara.

Aku terisak. Ibu mengurung diri dalam kamar. Sementara kakakku, masih sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya. Alhasil, aku dan ibu saling diam, meresapi kesunyian masing-masing.

Suasana rumah berubah setelah itu, dan ibu menjadi terlalu sering bermain facebook. Rumah yang dahulu kerap diwarnai gelak tawa para penghuninya, kini sepi tanpa suara. Ayah memang jarang sekali pulang. Sementara sisa anggota keluarga lainnya hanya sibuk dengan urusan masing-masing, membuat suasana rumah ini semakin tak bernyawa, selalu sepi seperti tak berpenghuni. Kami jadi tidak betah. Ini rumah kami, tapi seperti neraka buatan yang diciptakan dengan tergesa-gesa.

Suatu malam, saat aku benar-benar muak dengan semuanya, kudapati kakak tertidur di ruang tengah dengan televisi yang masih menyala. Aku berjalan mengelilingi rumah, berharap mendapat ketenangan barang sesaat. Sampai di depan kamar ibu dengan pintu setengah terbuka, kulihat ibuku tertidur di depan laptopnya. Ia pasti tak istirahat seharian karena bermain facebook terus-menerus. Aku melangkah mendekati Ibu. Wajah dan kulitnya mengkerut. Aku bisa melihat rasa lelah yang begitu dalam di raut wajahnya. Di punggungnya, sebuah beban teramat berat seolah ditopang dengan sekuat tenaga. Rasa iba ini mengalahkan rasa kesalku pada ibu.

Namun lamunan itu hilang ketika aku tak sengaja melihat sesuatu di layar laptop ibu. Di sana, kudapati banyak foto ayah bersama seorang perempuan muda. Mereka memakai baju pengantin megah dengan raut wajah yang sangat bahagia. Kedua mataku terbelakak dibuatnya.

Tanah Tinggi, November 2013

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz