Kokoru & Totuko

Oleh: Nina Rifanti | Mahasiswi |

Ada berbagai macam pekerjaan dibumi ini, entah untuk mencari kepuasan lahiriyah, ataupun bathiniyah. Banyak manusia yang ingin menambah pundi-pundi rupiah semasa hidupnya, tapi tak jarang pula orang yang bekerja ikhlas semata-mata untuk tabungan akhiratnya saja.

Dia adalah seorang perempuan kelahiran bali. Punya tekad dan kemauan yang pasti, awalnya tak banyak yang tahu, apa yang dilakukannya hanya ingin mempekerjakan ibu-ibu sekitar rumahnya yang banyak menganggur itu agar produtif dan mempunyai pekerjaan

Hingga pada suatu hari perempuan paruh baya tersebut megikut sebuah seminar yang diadakan oleh suatu perusahaan. Perusahaan tersebut mempromosikan produknya yaitu sebuah kertas berwarna yang dapat digunakan untuk membuat berbagai macam kerajinan tangan yang unik. “hmm, suatu hal yang menarik..” fikir perempuan tersebut.

Seminar ini tujuannya selain untuk mempromosikan produknya, juga untuk membuat audiens yang mengikuti seminar tersebut menjadi seorang yang produktif setelah mengikuti seminar tersebut. Tentang perempuan ini, sampai sejuh ini masih kurahasiakan agar kalian bisa membayangkan terlebih dahulu, bagaimanakah perjuangan dia dalam membangun dan mewujudkan keinginannya. Lantas, badai rintangan apa sajakah yang mengahadangnya didepan sana?

Dimulai dari niatnya untuk merealisasikan ilmu yang didapatnya setelah seminar tersebut, ternyata ada saja rintangan yang membuatnya goyah. Ha itu adalah, ternyata sudah ada oramg yang membuat produk kerajinan sejenis. Tentu saja ini membuatnya bingung, tak ada yang bisa dimulai karena sudah ada yang memulai, mau bisnis yang lain, tapi bisnis apa?

Hampir satu tahun lamanya, perempuan lulusan akademi koperasi indonesia ini menunggu saat yang tepat baginya untuk memulai usahanya. Tetap dengan olahan produk yang dinginkannya seperti dulu. Inspirasi yang perolehnya dari mengikuti seminar. Ya, benar, olahan kertas. Dia menunggu sampai pesaingnya itu eksistensinya menurun, barulah dia action. Karena tidak mau dianggap sebagai pesaing berat

Kertas tersebut bergelombang dibagian atasnya, dan halus dibagian bawahnya. Berdiameter 1×30 cm. Kertas tersebut harus digulung terlebih dahulu jika mau membentuk suatu produk yang diinginkan, sehingga dapat terbentuk dengan jelas dan bagus. Tentu, disini yang sangat dibutuhkan adalah tingkat kreatifitas dan daya inovasi dari sang pembuat

Dari situlah, wanita tersebut memulai usahanya, ‘Istana Kokoru’. Ya begitulah perempuan tersebut memberi nama tempat untuk menuangkan ide, serta menjadikan daya imajinasi dan juga daya kreatifitasnya liar menggeliat kesana kemari. Akhirnya terbentuk juga sebuah keinginan yang sudah lama diidamkannya

Tampak bahagia sekali dia, banyak yang mendukungnya, suami, orang tua, anak dan juga lingkungannya, semua mendukungnya untuk membentuk suatu tempat untuknya yang dapat dijadikan sebagai wadah kreasi bersama. Disitulah cerita hidupnya dimulai lagi. Setelah segala kebingungan dan segala kebimbangan meliputi tidurnya bertahun-tahun

Dwi Atmawati, sang ratu dari istana kokoru, pemilik dari segala bentuk imajinasi dan keuletan tangan yang lincah membentuk segala macam karakter produk, guna dipasarkan dan juga dipromosikan. Seorang perempuan dengan tubuh lincah meskipun sudah terbilang diusia senja. Bagaimana tidak, umurnya kala itu sudah menginjak 45tahun, saat tahun 2012, tahun dimana istana kokoru mulai didirikan. Oh iya, kokoru sendiri diambil dari nama pewayangan jawa yaitu gatot kaca

Tak ingin diam begitu saja, Dwi mengajari perempuan-perempuan disekitar rumahnya agar bergabung dan dapat membuat produk dari kertas kokoru, mendapat penghasilan, punya tambahan untuk membeli garam dan cabai untuk di dapur. Dengan sabar dan tekun, dilatihnya para ibu-ibu itu setiap harinya, kala pagi datang, sampai sore menjelang.

Tak sampai disitu saja, perempuan penunggang waktu ini memutar otak untuk bisa mempromosikan dan mengenalkan produknya ke masyarakat luas, lantas siapa saja mereka? Ya, ibu-ibu sekitar rumaahnya, anak-anak yatim piatu, serta anak SD, SMP, SMA. Dwi dengan tulus ikhlas mengajari mereka dan tidak dibayar. Hanya dengan satu tujuan, mereka semua mengenal produk yang dibanggakannya itu

Siapa yang tahu, jika gulungan kertas itu akhirnya menjadikan pundi-pundi rupiah tersendiri bagi Dwi dan keluarga. Memang dia tidak terlahir dari keularga yang kurang mampu, dia serba berkecukupan, bahkan suaminya juga pengusah yang bisa dibilang sukses. Tapi keinginannya untuk dapat berbagi dan turut meringankan beban pada perempuan-perempuan dilingkungannya menjadikan dia seorag wanita yang tangguh. Teramat tangguh malah

Dwi ditemani anaknya, Putu, sering ke sekolah-sekolah, atau ke panti sosial. Dibawah teriknya matahari siang, memohon waktu kepada bagian kantor sekolah agar diberikan sedikit waktu untuk mengajar kreatifitas kokoru. Berkali-kali ditolak karena mengganggu kegiatan belajar mengajar dikelas, berkali kali juga diseret langsung keluar dari gerbang. Sama sekali tak membuatnya menyerah dan lelah begitu saja

Tak berlangsung lama. Segala daya dan upaya yang dikerahkannya selama ini membuahkan hasil juga. Dwi mendapat banyak panggilan masuk untuk mengisi seminar dan juga memberi pelatihan kreatifitas diberbagai tempat, mulai dari sekolah SD, sampai seminar besar di universitas ternama yang berisi para mahasiswa-mahasiswi

Ada cerita lucu, saat Dwi dan Putu anaknya mengisi pelatihan kokoru di SD Stella Mariz di sekitar kawasan BSD, dia mengajarkan membuat produk dari kertas kokoru untuk dibuat berbagai macam kerajinan oleh 100 murid sekolah tersebut, ada yang membuat tempat pensil, hiasan dinding, hiasan pensil, ataupun bentuk karakter kartun seperti doraemon atau bentuk binatang. Karena begitu semangatnya murid-murid yang diajarkannya itu, dan dari pihak kokoru hanya membawa 4 orang pengajar saja.

Alhasil, ya. Banyak yang berebut, saling baku hantam, berebut gunting, lem, dan juga kertas. Apalag mereka tidak mau diajarkan oleh sang guru, mereka hanya mau diajarkan oleh orang dari pihak kokoru saja. Ada yang menangis terjerit-jerit, tidak mau gantian dan saling senggol menyenggol. “itu salah satu hal yang palig berkesan sih, seru tapi lucu..” kata Putu sembari tertawa. Wajar, mengontrol 100 anak SD dalam satu waktu, siapa juga yang tidak kewalahan?

Jam terbang Dwi dan anaknya kini telah tinggi banyak pesanan datang silih berganti, ada yang untuk souvenir pernikahan, pengajian, serta pertemuan formal lainnya. Disini membuktikan jika produk yang dihasilkan dari kokoru ini memang sudah terbukti, dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Hingga yang paling banyak, Dwi pernah mendapatkan 1000 pesanan kipas dari pelanggannya

Tak banyak memang keuntungan yang diambil, dari 500 rupiah, hingga 20 ribu rupiah per produk yang dijualnya. “kalau bikinnya seneng, berapapun hasil yang didapat, pasti tetep seneng aja.” Imbuh Putu saat bercerita padaku di istana kokoru kemarin siang

Awalnya hanya dari mulut ke mulut, hingga akhirnya Dwi dan anaknya rutin memasarkan produk hasil jari jemarinya, mereka berdua aktif membuka pameran disetiap bazar dan juga kegiatan pameran lain. Dari situlah, nama Dwi dan juga kokoru mulai dikenal di masyarakat luas.

Kokoru tak pernah kehilangan SDM untuk dilatih, bahkan perempuan-perempuan yang dilatihnya kini telah mahir dan siap sedia jika kapan saja diajak mengisi pelatihan kemanapun. Karena memang dari awal sudah dilatih dan diajarkan untuk membuat kerajinan dari kertas kokoru, sehingga hasilnyapun tidak mengecewakan

Dalam bisnis, ada kalanya kita diatas, ada kalanya dibawah, bukan hidup namanya kalau tidak pernah dibawah, dan tidak hidup juga namaya kalau selalu diatas. Badai rintanganpun datang menerjang istana kokoru, sang ratu memang masih dapat bertahan, tapi siapa yang dapat menjamin kelancaran kehidupan dalam istana?

Istana kokoru mulai redup eksistensinya, pesanan sudah jarang ada yang masuk. Susahnya mencari pasar yang pas untuk menjual produk, hingga harga jual yang dirasa kurang pas untuk produk yang dipasarkan. Itulah kesulitan yang dihadapi oleh istana kokoru setelah 2 tahun lamanya berdiri dengan megah tanpa guncangan

Tak mau hanya tinggal diam, Dwi dan Putu terus mencoba untuk tetap menjaga istana agar tak goyang diterpa terjangan badai. Mereka berdua terus melakukan promosi tentang produk-produk kokoru, tapi memang permintaan tak seramai dulu.

2017, akhirnya Putu, sang anak, mencoba untuk mendaftarkan dirinya dan produknya ke kementrian sebagai pengusaha pemula. Karena pada saat itu, ada dana khusus yang telah disiapkan oleh kemetrian koperasi dan umkm untuk memberikan dana tunjangan kepada para pengusaha pemula yang mau mengembangkan produknya

Pagi-pagi sekali, ada sms masuk ke hp Putu. “pokoknya kata-kataya gini, selamat anda terpilih sebagai pengusaha pemula yang mendapat dana bantuan dari kementrian koperasi dan umkm sebesar 11 juta, ga percaya dong rasanya..” ungkap Putu sambil senyum-senyum. Dia mengatakan jika dia benar-benar ga percaya sama apa yag dibacanya, “ah boongan kali..”. Putu menceritakan bagaimana dia berulang kali bertanya pada orang-orang yang ada disekitarnya

“awalnya bener-bener bingung, ini maksudnya apa, kok ada kata-kata seperti ini, ini maksudnya apa sih..” kebingungan sempat melanda hati Putu, akan ketidak jelasan dan ketidakpercayaan yang dia terima. Hingga akhirnya dia mendapat konfirmasi dan keterangan yang benar-benar membuat dia percaya. “beneran ga kebayang rasanya dapat uang segitu, dipercaya sama pihak pemerintah, dan lolos jadi kandidat wirausaha pemula”

Butuh waktu yang lumayan panjang dari mulai di terima sms itu sampai aku harus mengambilnya langsung ke Kendari, Sulawesi selatan. Naik pesawat bersama ibunya, dan ankanya yang kala itu baru beberapa bulan saja terahir ke dunia. “bener-bener ga kebayang rasanya, aku disuruh maju ke panggung, trus dikasih hadiah sama pak mentri, kaki aku gemeteran banget, badan aku panas dingin keringetan, rasanya udah campur aduk pokoknya..” Putu tampak tersenyum mengungkapkan pengalamannya setahun yang lalu

Takdir memang tidak ada yang tahu, siapa yang akan tahu jika dia nantinya akan menang adan lolos seleksi, siapa yang tahu jika kokorulah yang akhirnya membuat ibu dan anak ini meraih penghargaan dari kementrian, membuatnya terkenal tak hanya di daerah tangsel saja, tapi juga di daerah banten

Setelah mendapatkan uang bantuan 11 juta dari kementrian, Putu mulai membuka istana tetuko, anak cabang dari istana kokoru yang produknya sama. dari situ Putu mulai fokus mengembangkan kokoru dan tetuko untuk kelancaran bisnisnya dimasa mendatang. Mulai dari membenahi harga, pemasaran, dan juga kualitas produksi.

Kita bisa saja pandai setinggi langit, tapi tanpa usaha dan doa? Akan jadi apa kita? Untuk apa kita menyombongkan diri setinggi langit, jika merendah seperti bumi lebih mulia. Dwi dan Putu, seorang hindu yang taat, tapi pergaulannya banyak dengan orang-orang muslim, dia tak pernah melihat perbedaan, usaha yang dilakukannya tak lebih dari tulus ikhlas untuk membantu dan menolong para ibu-ibu disekitar rumahnya agar mempunyai penghasilan dan kehidupan yang layak

Mereka sosok ibu dan anak yang patut dicontoh bagi setiap generasi, mereka mengajarkan bahwa perbedaa usia dan zaman bukanlah penghalang bagi ibu dan anak untuk membuat suatu usaha yang dapat menyatukan zaman. Semangat terus untuk perempuan-perempuan tangguh diluar sana, terkhusus untuk aku, ibuku, dan kalian para perempuan pembaca.

2.076 komentar untuk “Kokoru & Totuko”

  1. Ping-kembali: viagra without a doctor prescription

  2. Ping-kembali: doctor7online.com

  3. Ping-kembali: viagra usa

  4. Ping-kembali: generic cialis for sale online

  5. Ping-kembali: viagra erection

  6. Hello! I could have sworn I’ve been to this blog before but after browsing through some of the post I realized it’s new to me.

    Anyways, I’m definitely happy I found it and I’ll
    be book-marking and checking back frequently!

  7. Ping-kembali: chloroquine phosphate

  8. Ping-kembali: buy tylenol