Keterbatasan Tak Menghambat Pendidikan

Oleh : Ainun | Mahasiswi |

Tak perduli usia semakin mengejarnya, Sanawi selalu gigih dalam menjalani kerasnya kehidupan. Lebih-lebih hal tersebut dilakukannya sebagai contoh bagi anak-anaknya, ia mendidik anak-anaknya untuk selalu disiplin, tidak menyia-nyiakan waktu yang telah diberi Tuhan. Sanawi selalu berprinsip bahwa waktu tidak akan pernah terulang, yang terjadi hari kemarin tidak akan pernah kembali. Maka menghargai waktu saat ini dan menjalankannya dengan hal-hal yang bermanfaat adalah yang harus dilakukan. Tidak ada kata nanti baginya jika memang bisa dilakukan saat itu juga. Baginya,jika hari ini sama dengan hari kemarin adalah suatu kerugian, dan akan lebih merugi lagi jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin.

Sanawi merupakan seorang ayah dari 6 orang anak, pria yang lahir puluhan tahun lalu itu bisa dikatakan sebagai orang yang multitalenta. Beberapa bidang pekerjaan pernah ia jalani, mulai dari petani, pedagang, tukang becak, supir, dan lain sebagainya. Dilahirkan ditengah keluarga yang serba kekurangan, membuatnya rela untuk melakoni berbagai macam pekerjaan. Masa kecilnya sudah tidak asing dengan sawah dan hutan, meski pendidikannya hanya sebatas sekolah dasar, namun Sanawi mengatakan bahwa ia bersyukur masih diberi kesempatan hidup oleh Sang Khalik hingga saat ini, masih bisa merasakan pahit manisnya kehidupan, dan berbagai perjalanan hidup yang telah dijalani yang bisa ia ambil hikmahnya.

Selalu ada hal yang disyukuri oleh pria sederhana ini meski dalam masa-masa tersulit sekalipun. Ia bersyukur Sanawi kecil telah mendapat pendidikan agama dengan baik. Ia menempa dirinya dengan ilmu-ilmu agama yang notabene di zaman dahulu biayanya murah atau bahkan gratis dibandingkan dengan biaya pendidikan umum. Sanawi yakin dari pendidikan agama seluruh perkara kehidupan dapat ditopang, ia menjadikan ilmu-ilmu tersebut sebagai prinsip-prinsip yang selalu diterapkan dalam menjalani hidupnya, dan kemudian diajarkan pada anak-anaknya saat ini.

Saat ini Sanawi memiliki usaha yang dijalani bersama sang istri yakni menjual bubur ayam, disamping itu ia juga merupakan seorang supir. Dibutuhkan kerjasama dan tenaga yang besar untuk menjalani itu, namun lagi-lagi ia kembali pada prinsip hidupnya. Ia tak mengeluhkan fisiknya yang semakin menua, tak lupa ia juga selalu menebar semangat untuk sang istri tercinta agar senantiasa tetap semangat menemaninya berjuang. Seperti tidak ada kata lelah dalam dirinya, bekerja dari dini hari –umumnya orang-orang sedang terlelap tidur, hingga petang menyambutnya bersama dengan baju yang telah bercampur keringat letihnya.

Melihat dirinya yang hanya sebatas lulusan SD, Sanawi memiliki tekad untuk mengantarkan anak-anaknya hingga sampai pada pendidikan yang setinggi-tingginya. Pekerjaan apapun ia rela lakukan demi anak-anak dan istrinya, lelah dan semakin menuanya fisik tak menjadikan alasan untuk ia berhenti mewujudkan tekadnya. Asalkan halal dan Allah ridhoi, ia akan kerjakan. Begitulah pemikiran Sanawi.

Kiranya pandangan secara umum bagi orang tua adalah menginginkan agar anaknya bisa menjalani pendidikan atau bahkan kehidupan yang lebih baik dari pada orang tuanya. Begitupun berlaku bagi Sanawi, ia tak mau anak-anaknya mengalami masa-masa sulit seperti dirinya. Sanawi yakin di era modern seperti sekarang ini, persaingan dan tantangan kedepan semakin sulit. Untuk itu pendidikan dianggap menjadi begitu penting bagi penopang kehidupan anak-anaknya dalam meraih kehidupan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan kehidupannya.

Sanawi merasa lega anak-anaknya pun sadar akan pentingnya pendidikan, setidaknya ia tak cemas harus susah payah membujuk mereka demi harus mengenyam bangku pendidikan. Sanawi tak mau ikut-ikutan cara berpikir kebanyakan orang-orang di kampung halamannya, baginya mereka terlalu sempit dalam berpikir tentang pendidikan. Mereka menganggap pendidikan tinggi akan menjadi sia-sia saja, menghabiskan banyak biaya, dan pada akhirnya akan sama saja seperti orang yang berpendidikan seadanya. Pemikiran-pemikiran seperti itu muncul akibat fenomena jumlah pengangguran yang nyatanya juga tak lepas dari lulusan perguruan tinggi. Akhirnya mereka lebih memilih untuk memberikan pendidikan seadanya untuk anak-anaknya, lalu bekerja menjadi alternatif berikutnya. Sanawi sadar tantangan hidup hari ini berbeda sekali dengan zaman dahulu, cara berpikir seperti itu tidak bisa diterapkan hari ini. Modernisasi hari ini benar-benar menuntut setiap orang untuk dapat bersaing, maka perlu bekal yang cukup dan baik, yang menurut Sanawi bekal tersebut adalah pendidikan.

Sanawi mengungkapkan fakta yang terjadi di kampung halamannya, bahwa yang mengenyam pendidikan tinggi hanya bisa dihitung jari, ia lantas sadar rendahnya pendidikan yang melatarbelakangi tindakan-tindakan kejahatan. Banyak sekali kasus kejahatan yang pernah terjadi di kampungnya. Ia sangat tidak mau anak-anaknya dan generasi penerusnya kelak menjadi pelaku kejahatan seperti itu. Maka perlu dirubah pola pikir yang mengesampingkan pendidikan, padahal mereka belum menyadari seberapa pentingnya pendidikan bagi kehidupan manusia. Dan Sanawi memulai itu semua dari keluarganya. Dan ia berharap kedepan, orang-orang di kampungnya bisa ikut menyadari hal yang serupa dengan dirinya.

Pendidikan tinggi tak melulu berorientasi pada hasil berupa uang, ya memang uang sangat dibutuhkan dalam mencukupi kebutuhan hidup. Tetapi makna pendidikan tidak boleh sampai sebatas itu saja, lebih jauh lagi dengan berpendidikan tinggi maka seseorang justru seharusnya lebih bisa menyikapi kehidupan ini dengan anggun. Bukan congkak atas ilmu yang dimilikinya. Seperti itulah yang Sanawi pikirkan selama ini dalam memandang pendidikan.

Sanawi ingin membuktikan bahwa pendidikan itu benar-benar penting sepenting-pentingnya bagi kehidupan, berpendidikan berarti berilmu. Dengan berilmu seseorang akan menjadi bebas – dalam arti positif, orang-orang diluaran sana yang memilih jalan hidup yang menurutnya adalah kebebasan, dimata  Sanawi mereka salah kaprah. Yang dimaksud bebas ya karena kita sudah tahu ilmunya, kita tahu harus apa dan bagaimana, ada ilmu yang mengajarkan. Bebas bukanlah bertindak sekehendaknya saja tanpa ada ilmu sebagai pondasi, itu bukan makna bebas bagi Sanawi.

Menuntut anak-anaknya berpendidikan tinggi, cita-cita Sanawi sebagai seorang ayah tidaklah muluk-muluk. Ia hanya menginginkan mereka bijak menghadapi hidup ini, mematuhi peraturan-peraturan yang sudah ditentukan Sang Pencipta, bukan malah menjadi sombong dan tinggi hati karena merasa sudah menyandang pendidikan tinggi. Justru jika seperti itu, maka belum sampailah manfaat ilmu-ilmu tersebut untuk anak-anaknya. Ia menganalogikannya seperti halnya padi, semakin berisi semakin merunduk.

Hidup puluhan tahun di tanah rantau, membuat Sanawi kurang lebih paham akan makna kehidupan. Bertahan sampai sejauh ini bukan perkara mudah baginya, namun demi tekadnya untuk anak-anak ia kembali meyakinkan diri untuk terus berjuang dan berjuang. Lagi-lagi pria sederhana ini memiliki pandangan yang berbeda dari kebanyakan orang, kesuksesan bukanlah sekedar materil. Jika orang lain menganggap keberhasilan hidup diukur dengan bergelimangnya harta, maka Sanawi tidak sependapat. Baginya pencapaian keberhasilan adalah dengan melihat anak-anaknya dapat mengenyam bangku pendidikan yang tinggi, harta dianggapnya hanya sebagai bonus.

Sanawi juga selalu berpesan pada anak-anaknya, untuk dapat menggunakan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya. Sudah jauh-jauh merantau ke kota orang dengan berbagai macam lika-liku rintangan yang dihadapi, jika masih menuruti kata malas maka akan menjadi sia-sia saja semua pengorbanan yang telah dilakukan. Gunakan waktu berharga dimasa muda dengan melakukan banyak hal bermanfaat, sekalipun hanya sedikit saja. Pesan Sanawi yang selalu diberikan untuk anak-anaknya. Waktu tidak akan pernah kembali, jangan sampai menyesal dihari tua nanti. Dan yang tak pernah lupa ia sampaikan kepada anak-anaknya ialah bahwa setiap waktu yang diberikan oleh Tuhan akan dimintai pertanggungjawabannya kelak. Digunakan untuk apa saja waktu yang diberikan tersebut. Jangan sampai waktu-waktu tersebut hanya dihabiskan untuk menuruti hawa nafsu setan saja.

Arti pendidikan untuk seorang Sanawi

Sanawi menyadari bahwa dirinya adalah seorang pemimpin keluarga, tanggungjawabnya sangat besar. Sanawi pribadi menginginkan dirinya bisa lebih beruntung untuk bisa mengenyam bangku pendidikan yang lebih baik, ingin menjadi sosok ayah yang bisa dijadikan panutan bagi anak-anaknya. Diusianya yang sudah sepuh, keinginan untuk belajarnya justru meningkat. Pria beruban ini merasa dimudahkan di era digitalisasi sekarang ini, dimana banyak media yang tersedia sehingga memudahkan dalam mengakses informasi. Sanawi tak mau ketinggalan info terkini, aktivitas rutinnya adalah mendengarkan radio sebelum tidur, juga disela-sela waktu luangnya. Bahkan ia juga masih menyempatkan waktu untuk membaca buku. Sanawi juga mengungkapkan bahwa dirinya masih rajin mengikuti pengajian rutin. Ia ingin mencontohkan kepada anak-anaknya bahwa tidak ada kata terlambat untuk mencari ilmu dan mencari ilmu adalah suatu kewajiban. Sanawi juga menekankan kepada anak-anaknya untuk selalu melibatkan agama disetiap langkah hidupnya, tak habis pikir dirinya jika agama ditinggalkan jauh dibelakang oleh anak-anaknya.

Usia tak membatasi seseorang untuk mencari ilmu, ”Kehidupan yang abadi itu ada di akhirat kelak, saya harus membawa bekal banyak untuk menghadap Allah” ujar sanawi. Menyadari akan tanggungjawabnya yang besar sebagai kepala keluarga, Sanawi ingin membawa keluarganya untuk selalu melangkah pada jalan yang benar. Ia tahu, langkah-langkah tersebut tidak mudah dijalani. Banyak sekali rintangan dan godaan yang dihadapi, tetapi akhirnya ia kembalikan lagi pada Sang Maha Pencipta, ia meminta agar selalu dilindungi keluarganya, dijauhkan dari mara bahaya dan godaan-godaan lainnya.

Si penjual bubur ayam ini, juga selalu mengajarkan prinsip hidup mandiri pada anak-anaknya. Tidak boleh kiranya berpangku tangan pada orang lain, justru sebaliknya. Harus mampu menolong orang yang lebih membutuhkan, sekalipun sedang dalam kesusahan.

Dalam gurauannya, Sanawi berkata “Kalo saya mikirin harta, pasti sudah banyak harta yang saya punya dengan tidak membiayai anak-anak sekolah. Coba saja dihitung, anak saya ada 6 dan alhamdulillah semuanya sekolah. Meskipun tidak semuanya sampai pada perguruan tinggi, bisa dibayangkan berapa banyak uang yang sudah saya keluarkan? hehehe”. Tidak bermaksud sombong, Sanawi hanya ingin membuktikan bahwa harta bukanlah segalanya. Barangkali saat ini ia harus berdarah-darah demi membiayai anak-anaknya, hartanya tidak seberapa, dan harus bekerja memeras keringat demi buah hati. Tapi Sanawi meyakini bahwa jika Allah mengizinkan kelak anak-anaknya akan menjadi kebanggaan, hasil manis dari semua perjuangan yang telah ia lakukan bersama sang istri tercinta.

Anak-anak zaman sekarang itu hidupnya enak, apa-apa serba ada, apa-apa disediakan, apa-apa mudah. Pikir si pria sepuh ini. Maka menurutnya, seharusnya hal-hal tersebut dimanfaatkan dengan baik. Juga kesadaran orang tua sangat penting, mengarahkan anak-anaknya untuk mengenyam pendidikan yang seharusnya. Tidak ada yang tidak mungkin, tidak ada yang sulit selama kita mau berusaha. Jangan terpaku pada biaya, zaman sekarang banyak jalan untuk bisa berpendidikan tinggi tanpa biaya sekalipun. Sanawi merasa tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan, semua pintu peluang terbuka lebar. Tinggal bagaimana kita membaca setiap kesempatan yang ada.

Sanawi kecil sudah dipastikan tidak mengenal gizi yang baik, ia cukup bersahabat dengan nasi jagung. Makanan pokoknya sehari-hari. Anak-anak sekarang mana kenal dengan makanan seperti itu, kalaupun mengenal mana sudi mereka mencicipi itu.

Rugi rasanya jika sudah diberi kemudahan dan fasilitas seperti itu tetapi masih saja diabaikan, tidak digunakan dengan sebaik-baiknya. Untuk itu, Sanawi selalu berulang-ulang mengingatkan anak-anaknya untuk menghargai waktu dan memanfaatkan setiap kesempatan dan peluang yang ada.

Dalam keluarganya, Sanawi dikenal sebagai sosok seorang ayah yang cerewet oleh anak-anaknya. Dan Sanawi mengakui itu, baginya itu tidak masalah selama dalam hal baik. Ia meyakini kecerewetannya harus dilakukan demi terbentuknya sikap disiplin dalam jiwa anak-anaknya. Ia tidak mau anak-anaknya terbawa arus yang menyesatkan, ia khawatir anak-anaknya salah jalan. Biarlah ia dikenal menjadi seorang ayah yang cerewet asal ketakutan dan kekhawatiranya tidak terjadi. Sanawi menyadari, dirinya sudah tidak lagi muda. Ia tidak mau menyesal nantinya. Ia tidak bisa meninggalkan harta berlimpah untuk anak-anaknya kelak, ia hanya bisa mewarisi sekelumit ilmu yang ia miliki. Sanawi berharap semoga semua yang telah ia ajarkan pada anak-anaknya dapat mengantarkan mereka menuju kebahagiaan yang Allah ridhoi.

Sanawi selalu meyakinkan anak-anaknya, perjuangan yang mereka lakukan selama ini akan membawa mereka pada pintu keberhasilan yang rasa manisnya akan mereka rasakan sendiri, ia dan istrinya hanya akan ikut tersenyum penuh bahagia melihatnya.

Kebahagiaan melimpahi Sanawi dan istrinya, tahun 2017 ini anak kelimanya lulus sebagai sarjana hukum, ucap syukur dalam hatinya membuncah. Kepada Allah dia bersyukur dan berterimakasih, satu lagi perjuangannya mengantarkan anaknya pada kelulusan ini. Tidak berlebihan yang Sanawi harapkan atas kelulusan anak kelimanya ini, semoga status yang didapat anaknya bisa dibawa dengan baik dan amanah.

”Satu pesan saya yang paling penting dan sering saya ucapkan pada anak-anak saya, jangan pernah tinggalkan sholat lima waktu”, ujar Sanawi sambil tersenyum. Ia tidak pernah memaksa kehendak anak-anaknya untuk menjadi apa. Ia beri kebebasan memilih pada mereka, asal jangan lupakan kewajiban mereka sebagai hamba Allah. Baginya, semua pencapaian di dunia tidak akan bermakna apa-apa jika Allah tidak ridho. Jangan pernah meninggalkan Allah jika tidak mau ditinggalkan oleh Allah.

Sebagai akhir, Sanawi mengungkapkan bahwa harapannya tidak neko-neko. Semoga anak-anaknya selalu amanah dalam menjalani hidup, dan kelak ketika dirinya dipanggil Allah semoga anak-anaknya telah mampu membawa diri mereka masing-masing dalam jalan kebaikan dan dapat menghadirkan manfaat atas ilmu-ilmu yang mereka miliki dimanapun mereka berada. Sehingga pada akhirnya Sanawi dapat tersenyum saat berpisah dengan mereka dan ringan langkahnya dalam menghadap Ilahi karena tanggungjawabnya telah usai ditunaikan.

1.049 komentar untuk “Keterbatasan Tak Menghambat Pendidikan”

  1. I not to mention my pals ended up reading through the great solutions from the website and then instantly came up with a terrible feeling I had not expressed respect to the web site owner for those secrets. These boys happened to be absolutely passionate to read them and have now definitely been taking pleasure in these things. Thanks for getting simply accommodating and for considering these kinds of incredibly good subject areas millions of individuals are really desperate to understand about. My very own sincere apologies for not expressing appreciation to you sooner.

  2. Students who know they cannot deliver well-written paper in such short deadlines can buy a research paper for college work from reliable homework help services instead of doing shoddy work.
    buy papers online In the meantime, we will continue to coordinate with infectious disease and public health experts along with government officials to determine safe protocols for resuming our games.

  3. A lot of thanks for each of your efforts on this blog. My aunt delights in working on investigations and it’s easy to see why. My partner and i notice all of the powerful method you create practical tactics through your website and even welcome response from other people on this area of interest plus my child is without question becoming educated a whole lot. Take pleasure in the rest of the year. Your performing a great job.

  4. Ping-kembali: viagra without a doctor prescription

  5. There are numerous reasons why students of all academic levels, high school to graduate studies, choose to buy custom papers online from a qualified custom writing service. paper help Our company is globally renowned for the quality of our writing services and we have already helped countless students when they needed different types of coursework.

  6. We deliver cheap price custom essays, research papers, analytical reports, business reviews, lab reports, film and book reviews, presentations, speeches, dissertations and any other types of written assignments. paper writing service With long years of work and well-experienced writers we managed to get respect from our customers for writing custom papers for which students get high grades.

  7. Ping-kembali: lowest price on viagra

  8. Ping-kembali: ciprofloxacin 500mg antibiotics cost

  9. Ping-kembali: cheap viagra

  10. Ping-kembali: buy naltrexone online

  11. Ping-kembali: acetaminophen walmart

  12. Ping-kembali: chloroquine antiviral

  13. Знаете ли вы?
    Среди клиентов древнеримского афериста был император Марк Аврелий.
    Один из старейших музеев Амстердама находится в церкви на чердаке.
    Перечень имён может быть самостоятельным поэтическим жанром.
    Старейшую в России организацию реставраторов велено было выселить и уплотнить.
    Ливийский диктатор пытался спасти от казни премьер-министра Пакистана.

    http://arbeca.net

  14. [ SEO – BACKLİNK – HACKLİNK – BLACK OR WHİTE HAT ]
    – – – – – – – – – – – – – – – –

    1- Senin için yorum backlink yapabilirim.

    2- I can comment backlink for you.

    3- Ich kann den Backlink für Sie kommentieren.

    4- Я могу прокомментировать обратную
    ссылку для вас.

    [ SEO – BACKLİNK – HACKLİNK – BLACK OR WHİTE HAT ]

    – – – – – – – – – – – – – – – –

    WhatsApp = +9 0422 606 06 30
    Mail = Seo.Backlink.44@gmail.com

    Google Search = Seo Bayi
    seo